Perundungan atau buli bukan sekadar persoalan antar-anak di sekolah. Buli adalah bentuk kekerasan psikologis dan sosial yang meninggalkan bekas panjang pada kepribadian anak. Banyak korban buli tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, cemas, bahkan merasa tidak berharga. Dalam banyak kasus, peran orang tua dalam kasus buli menjadi faktor penting apakah anak akan pulih atau justru semakin terpuruk.
Sayangnya, masih banyak kesalahan orang tua menghadapi buli yang terjadi karena ketidaktahuan, reaksi spontan, atau rasa panik. Beberapa orang tua ingin melindungi anaknya secepat mungkin, namun cara yang digunakan justru memperburuk keadaan. Artikel ini membahas delapan kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua saat menghadapi anak dibuli, beserta langkah bijak untuk memperbaikinya.
1. Meremehkan Cerita Anak
Salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah meremehkan cerita anak ketika ia bercerita sedang dibuli. Banyak orang tua menganggap apa yang dialami anak hanyalah bagian dari dinamika sosial di sekolah. Kalimat seperti “Namanya juga anak-anak, biasa bertengkar” atau “Mungkin kamu terlalu sensitif” bisa membuat anak merasa tidak didengarkan dan kehilangan kepercayaan untuk bercerita lagi.
Padahal, salah satu cara paling penting dalam cara orang tua menghadapi anak dibuli adalah dengan menjadi pendengar yang hadir dan empatik. Ketika anak menceritakan kejadian yang membuatnya tidak nyaman, yang dibutuhkan bukan penilaian atau solusi cepat, melainkan rasa aman untuk didengar. Anak yang merasa dipercaya akan lebih terbuka dan berani meminta bantuan ketika situasi memburuk.
2. Menyalahkan Anak yang Jadi Korban
Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar menyalahkan anak mereka yang menjadi korban. Kalimat seperti “Makanya jangan aneh-aneh” atau “Kamu harusnya bisa bela diri” bisa membuat anak merasa bersalah atas hal yang tidak seharusnya ia tanggung. Sikap ini membuat korban semakin merasa rendah diri dan menganggap dirinya pantas diperlakukan buruk.
Orang tua perlu memahami bahwa tidak ada alasan yang membenarkan perundungan. Menyalahkan anak hanya menambah luka psikologisnya. Dalam cara menangani anak korban buli, orang tua sebaiknya menegaskan bahwa tindakan membuli tidak bisa diterima dalam keadaan apa pun. Tugas orang tua adalah memvalidasi perasaan anak, bukan menilai siapa yang benar atau salah. Dari sanalah anak akan belajar untuk menghargai dirinya sendiri.
3. Terlalu Cepat Mengambil Tindakan Emosional
Ketika mengetahui anaknya dibuli, wajar jika orang tua merasa marah dan ingin segera bertindak. Namun, tindakan yang dilakukan dalam kondisi emosi—seperti datang ke sekolah untuk memarahi pelaku atau menulis status di media sosial—sering kali memperburuk keadaan. Anak bisa merasa malu, dan pelaku mungkin semakin berani melakukan perundungan secara diam-diam.
Pendekatan yang lebih bijak adalah menenangkan diri terlebih dahulu dan mencari informasi lengkap. Orang tua bisa berbicara dengan guru wali kelas atau konselor sekolah untuk memastikan kejadian yang sebenarnya. Dengan demikian, solusi yang diambil akan lebih efektif dan tidak memperburuk situasi sosial anak di sekolah. Ingatlah bahwa cara orang tua menghadapi anak dibuli bukan soal membalas, tetapi melindungi dengan bijak.

4. Tidak Melibatkan Pihak Sekolah
Banyak orang tua memilih menangani masalah buli secara pribadi, tanpa melibatkan pihak sekolah. Padahal, sekolah adalah tempat utama di mana perundungan sering terjadi, dan guru memiliki tanggung jawab moral serta hukum untuk ikut mengatasinya. Mengabaikan kerja sama dengan sekolah hanya membuat masalah sulit terpantau.
Langkah terbaik adalah melibatkan sekolah sejak awal. Sampaikan laporan dengan tenang dan objektif. Hindari menuduh atau mempermalukan pihak sekolah, tetapi ajak mereka mencari solusi bersama. Kalimat sederhana seperti “Kami ingin memahami situasinya agar bisa mendukung anak kami dan teman-temannya dengan lebih baik” akan membuka ruang kerja sama yang sehat. Kolaborasi antara rumah dan sekolah merupakan inti dari peran orang tua dalam kasus buli yang berhasil.
5. Mengajarkan Balas Dendam
Sebagian orang tua, karena tidak tahan melihat anaknya disakiti, justru memberikan nasihat yang salah seperti “Kalau dia pukul kamu, pukul balik.” Meskipun terdengar seperti bentuk keberanian, pesan ini sebenarnya mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Anak mungkin merasa kuat sesaat, tetapi tindakan itu bisa memperpanjang rantai perundungan.
Sebagai gantinya, ajarkan anak untuk bersikap tegas namun tidak kasar. Anak perlu memahami bahwa mereka berhak membela diri, tetapi tanpa harus menyakiti orang lain. Ajarkan cara berbicara dengan kalimat yang tegas, seperti “Aku tidak suka kamu melakukan itu” atau “Berhenti, itu tidak lucu.” Pendekatan ini menumbuhkan rasa percaya diri dan mengajarkan nilai keberanian yang sehat.
6. Mengabaikan Dampak Emosional
Buli tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga luka emosional yang dalam. Anak yang dibuli bisa mengalami kecemasan, sulit tidur, atau kehilangan semangat belajar. Namun, banyak orang tua menganggap bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya. Padahal, tanpa dukungan emosional, luka itu bisa bertahan lama dan memengaruhi kepribadian anak hingga dewasa.
Dalam cara menangani anak korban buli, orang tua perlu memberi perhatian serius pada kondisi emosional anak. Dengarkan perasaannya setiap hari dan bantu ia mengelola rasa takut atau sedih. Jika tanda-tanda trauma semakin terlihat, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional seperti psikolog anak. Proses pemulihan tidak selalu cepat, tetapi dukungan orang tua adalah fondasi terpenting untuk memulihkan kepercayaan diri anak.
7. Tidak Menjadi Teladan di Rumah
Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari, terutama dari orang tua. Ketika orang tua sering mengejek orang lain, berbicara kasar, atau mempermalukan anak di depan keluarga, tanpa sadar mereka sedang menanamkan benih perilaku membuli. Pola komunikasi di rumah yang keras bisa membuat anak menganggap ejekan dan hinaan sebagai hal yang normal.
Untuk mencegah hal ini, orang tua harus terlebih dahulu menata perilakunya sendiri. Jadilah contoh dalam menghormati orang lain, bahkan dalam perbedaan pendapat. Tunjukkan bahwa setiap orang layak diperlakukan dengan baik. Dengan memberikan teladan, orang tua sedang membangun budaya empati di rumah—sebuah benteng kuat untuk mencegah anak menjadi korban atau pelaku perundungan di luar rumah.
8. Mengabaikan Pendidikan Empati
Kesalahan terakhir yang sering dilakukan adalah mengabaikan pendidikan empati sejak dini. Banyak orang tua beranggapan bahwa anak akan belajar empati secara alami seiring bertambah usia. Padahal, kemampuan memahami perasaan orang lain harus dibangun melalui contoh, diskusi, dan pengalaman yang berulang. Tanpa empati, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang acuh terhadap penderitaan orang lain.
Ajarkan empati dengan cara sederhana. Setelah menonton film atau membaca cerita, ajak anak berdiskusi: “Bagaimana perasaan tokohnya?” atau “Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu jadi dia?” Pertanyaan semacam ini membantu anak mengasah kemampuan memahami emosi orang lain. Pendidikan empati di rumah adalah bentuk konkret dari peran orang tua dalam kasus buli—mencegah sebelum terjadi, bukan hanya menanggapi setelah terluka.
Menjadi Orang Tua yang Hadir, Bukan Sekadar Bereaksi
Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi korban buli. Namun dalam kepanikan, banyak yang justru melakukan hal-hal yang membuat luka anak semakin dalam. Menghadapi perundungan membutuhkan kesabaran, ketenangan, dan kemampuan untuk mendengarkan. Orang tua yang mampu menahan diri dan berpikir jernih dapat menjadi tempat perlindungan yang aman bagi anak.
Menjadi orang tua yang hadir berarti bukan hanya memberikan solusi, tetapi juga mendampingi anak melewati proses emosionalnya. Dalam cara orang tua menghadapi anak dibuli, dukungan yang paling penting bukan terletak pada seberapa cepat masalah selesai, melainkan seberapa tulus anak merasa dicintai dan diterima apa adanya. Dari rasa aman itu, anak akan belajar untuk pulih, berani, dan kembali percaya diri.
Kesimpulan
Buli adalah masalah sosial dan emosional yang serius. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan nasihat atau amarah, tetapi membutuhkan pendekatan yang lembut dan strategis. Orang tua dan kasus perundungan tidak dapat dipisahkan, karena keluarga adalah tempat pertama anak belajar mengenal nilai, keberanian, dan rasa hormat.
Delapan kesalahan yang dibahas di atas menjadi pengingat bagi setiap ayah dan ibu agar lebih peka dalam merespons cerita anak. Dengan menghindari kesalahan orang tua menghadapi buli, kita tidak hanya menyembuhkan luka anak, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi. Pada akhirnya, tanggung jawab terbesar orang tua bukan hanya melindungi anak dari dunia luar, tetapi juga mengajarkan mereka bagaimana menjadi manusia yang baik di dalamnya.
